Novel Ayat-ayat Cinta bertutur tentang jatuh-bangun hidup Fahri , pemuda dari Indonesia yang menyelesaikan pendidikan S2-nya di Al Ahzar, Mesir, Fahri di sana menemui banyak tantangan, mulai dari masalah keuangan, kehidupan , kesehatan, sampai urusan cinta, tantangan² tersebut ia selesaikan dengan cara yang islami.
Fahri digambarkan oleh sang novelis dengan begitu sempurna: lembut, cerdas, tampan, romantis, tahfiz Qur’an, dan pandai berdebat, kesempurnaan demi kesempurnaan itulah tidak ada di dalam Filmnya.
Di tangan Hanung Bramantyo, Salman Aristo dan Ginatri S. Noer, tokoh Ayat-ayat Cinta menjadi lebih manusiawi dan hampir sama dengan kenyataan hidup sekarang ini, Fahri jadi orang yang ragu-ragu dan tidak selalu beruntung, Aisha jadi tidak seperti yang kita bayangkan bahwa dia juga benar-benar baik, akan tetapi juga bisa cemburu.



















